Selasa, 24 Maret 2020

Pendidikan Biologi dalam Al-Qur'an

PENGETAHUAN BIOLOGI DALAM AL-QUR’AN


Uswatun Hasan
IAIN Sultan Amai Gorontalo
Email: uswatunhasan70@gmail.com


Abstrak :

Pengetahuan biologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan obyek kajiannya yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Di antara ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi yaitu: Asal kejadian: QS. al-Anbiya : 30, QS. al-Nur: 45, QS. Shad: 71-72, QS. al-Insan: 2, Keanekaragaman dan klasifikasi: QS. Thaha: 53, QS. al-Hajj: 5, Reproduksi/berpasang-pasangan: QS. al-Syura: 11, QS. al-Hijr: 22, QS. Yasin: 36, Zoologi invertebrata: QS. al-Ankabut: 41, QS. al-Syura: 29, Zoologi vertebrata: QS. al-Mulk: 19, Tingkah laku hewan: QS. al-Nahal: 68, Indra (kulit): QS. al-Nisa: 56, dan tubuh hewan (unta): QS. al-Ghasyiyah: 17. Dengan adanya kajian ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi, jelaslah bahwa di dalam Alquran ayat-ayatnya tidak ada satupun yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, bahkan sebaliknya mendorong untuk lebih maju lagi. Hal ini sangat bermanfaat bagi manusia. Bahwa manfaat adanya pengetahuan biologi, Allah swt. menciptakan hewan untuk kepentingan manusia, sehingga manusia sangat membutuhkan hewan untuk dijadikan konsumsi.

Kata Kunci : Alquran, Pengetahuan Biologi









Pendahuluan :
Pengetahuan biologi merupakan suatu kajian tentang makhluk hidup. Biologi adalah cabang dari ilmu pengetahuan alam. Begitu juga dalam dasar gerakan tubuh yang bermacam-macam, baik bagi hewan, manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Di mana ilmu pengetahuan alam ini basih terbagi-bagi lagi menjadi beberapa disiplin, yaitu astronomi, geologi, arkeologi, geografi, botani, zoologi, entologi, biologi dan fisika. Alquran sebagai pedoman umat Islam dalam menjalani kehidupan tidak hanya memuat hal-hal yang berkaitan dengan keakhiratan saja, namun secara umum Alquran merupakan sumber rujukan berbagai macam permasalahan yang ada. Termasuk di antaranya tentang kajian pengetahuan biologi. Pengetahuan biologi dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik atau metode Maudhu’iy, menurut M. Quraish Shihab mempunyai dua pengertian, yaitu:
1. Penafsiran menyangkut satu surat dalam Alquran dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan merupakan tema sentralnya, serta menghubungkan persoalan-persoalan yang beraneka ragam dalam surat tersebut antara satu dan lainnya dan juga dengan tema tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan.
2. Penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat Alquran yang membahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat Alquran dan yang sedapat mungkin diurut sesuai dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut, guna menarik petunjuk Alquran secara utuh tentang masalah yang dibahas.






Pembahasan :
1. Pengertian Biologi Menurut Bahasa (Lughawi)/Etimologi.
Yang dimaksud dengan biologi terdiri dari dua suku kata, yakni bio (alam kehidupan) termasuk di dalamnya tumbuh-tumbuhan, binatang, alam kehidupan yang diam dan manusia itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan logi berasal dari bahasa Yunani atau dikenal dengan logos, yakni ’ilmu’. Jadi, secara komprehensif yang dimaksud dengan biologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh kehidupan makhluk Allah SWT. yang ada di muka bumi ini. Sedangkan pengetahuan biologi, secara etimologinya berasal dari kata pengetahuan dan kata biologi itu sendiri. Kata pengetahuan yaitu segala sesuatu yang diketahui. Sedangkan kata biologi adalah ilmu tentang keadaan dan sifat makhluk hidup. Kata biologi dalam bahasa Arab yaitu البُيُوْ لُوْجِيَا dan setelah dilihat dalam kitab فَتْحُ الرَّحْمَنِ لِطَلَبِ اَيَاتِ القُرْاَنِ ternyata tidak ditemui kata biologi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kata biologi tidak ada dijumpai dalam Alquran. Dengan demikian, karena pengetahuan biologi adalah pengetahuan yang berkaitan dengan makhluk hidup, maka di sini dapat dikemukakan ayat-ayat yang berkaitan ataupun yang sejalan dengan pengertian pengetahuan biologi.
2. Pengertian Biologi Menurut Istilah (Terminologi)
Yang dimaksud dengan biologi secara istilah atau terminologi adalah mengkaji semua makhluk hidup, tidak hanya tumbuhan dan hewan yang hidup dimuka bumi ini, akan tetapi tumbuhan dan hewan yang hidup di masa lampau bahkan di tempat-tempat lain jika mungkin ada kehidupan. Penggunaan Istilah biologi pertama kali tercatat pada tahun 1736 yaitu digunakan oleh Linnaeus dalam karyanya yang berjudul Bibliotheca Botanica. Namun pengkajian ilmu yang berkaitan tentang alam sudah terlebih dahulu ada sejak masa lampau.
3. Term-term Pengetahuan Biologi dalam Al-Qur’an
Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi. Namun dalam makalah ini hanya mengupas beberapa ayat saja di antaranya tentang:
a. Asal kejadian:
    •          •       
Terjemahan : “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”. (QS. al-Anbiya : 30).

  •   •   •     •     •          •       

Terjemahan : “dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. al-Nur : 45)

                        
Terjemahan :“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".(QS. Shad: 71-72).

         •  
Terjemahan : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1535] yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.”(QS. Al Insan: 2).

b. Keanekaragaman dan klasifikasi:
                    
Terjemahan : “yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thaha: 53).

 ••                                          •   •                   •        


Terjemahan : “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”(QS. al-Hajj : 5).


c. Reproduksi/berpasang-pasangan:
                        
Terjemahan : “(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Qs. Asy-Syura:11).

             
Terjemahan : “dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. al-Hijr: 22).

              
Terjemahan : “Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”( QS.Yasin: 36).

d. Zoologi invertebrata:
            •          
Terjemahan : “perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Ankabut: 41).





                  
Terjemahan : “di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (QS. al-Syura: 29).

e. Zoologi vertebrata:
                  
Terjemahan : “dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu.” (QS. al-Mulk: 19.)

f. Tingkah laku hewan:
              
Terjemahan : “dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS. al-Nahal: 68).

g. Indra (kulit):
•           •           
Terjemahan : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Nisa: 56).
h. Tubuh hewan (unta);
                •           

Terjemahan : “dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.”(Qs.Al-Jasiyah:17).

4. Penafsiran Ayat yang Berkaitan Dengan Pengetahuan Biologi Menurut Tafsir Klasik/Tradisional
a. Dalam tafsir al-Maraghi (tafsir klasik/tradisional) yang berjudul al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1946. tafsir al-Maraghi, Kairo: Bab al-Halabi. Jld. 1. dan lihat juga dalam buku Hasan Zaini, Tafsir Tematik Ayat-ayat Kalam Tafsir Al-Maraghi, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997), h. 383. dikatakan bahwa ;
1) Penciptaan manusia merupakan ragam dari manusia, sehingga manusia itu dalam konteks ke alaman merupakan rangkaian satu tautan yang saling berhubungan;
2) Penciptaan alam (termasuk di dalamnya manusia) merupakan konsistensi alam tersebut memuat zat Allah swt;
3) Kepada manusia Allah swt. mengamanahkan alam semesta ini untuk dikelola dan dimanfaatkan bagi kemashlahatan seluruh makhluk;
4) Untuk berkemampuan mengelola dan memanfaatkan alam semesta, kepada manusia, Allah swt. anugerahkan aql dan aql ini tidak diberikan-Nya, kecuali hanya kepada manusia. Karena itu, manusia dikeluarkan dari defenisi alam semesta. Dengan demikian, penggunaan terma alam semesta hanya merujuk pada pengertian alam semesta dalam pengertian jagat raya;
5) Dalam Alquran, pengertian alam semesta dalam arti jagat raya bisa dipahami dari terma al-samáwát wa al-ardi wa má baynahuma. Ungkapan ini berulang sebanyak 20 kali dan tersebar pada 15 surat.
Hal-hal di atas sesuai dengan tafsir al-Maraqhi, yang tertera dalam surat yasin ayat 36, surat as-Syura ayat 11 dan surat al-Hijr ayat 22.
b. Kemudian dalam tafsir Fakhruddin ar-Razi (Tafsir Klasik/Tradisional) yang berjudul Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar al-Fikr, 1981, Juz I dikatakan bahwa;
1) Alam yang diciptakan oleh Allah swt. tidak terlepas dari apa yang diciptakannya untuk manusia. sebab hal ini berkaitan dengan mutu simboisis.
2) Alam yang terbentang oleh Allah swt. diisinya dengan makhluk makhluk hidup.
3) Alam yang dimuat oleh Allah swt. merupakan bukti bahwa Allah swt. Memiliki keutamaan dalam penciptaan, dan bukan hanya menciptakan tapi juga mengembangkan dan menjaganya dengan baik, sebagaimana Allah menunjukkannya dalam surat QS. al-Syura: 29:

                  
Terjemahan : “di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya”. (Qs.Al-Syura :29).

Tafsiran di atas mengungkapkan bahwa apa yang disebarkan oleh Allah swt. adalah hewan-hewan yang melata, artinya makhluk hidup yang saling berkaitan atau bergantung kepada makhluk lainnya. Kemudian dalam tafsir Fakhruddin ar-Razi tentang ayat di atas sesuai dengan surat Qs.an-Nahl; 68 dan surat al-Mulk ayat 19 dan surat al-Ghassyiyah ayat 17.

5. Penafsiran Ayat yang Berkaitan Dengan Pengetahuan Biologi Menurut Tafsir Modern
Ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi di antaranya: Asal kejadian tentang alam beserta isinya, yakni dalam surat al-Anbiya ayat 30:

    •          •        
Terjemahan : “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Qs. Al-Anbiya :30).

1) Menurut M. Quraish Shihab (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran Volume 8 Cet.V (Jakarta: Lentera Hati, 2012), dalam memahami ayat di atas bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan yang terpadu. Hujan tidak turun dan bumi pun tidak ditumbuhi pepohonan, kemudian Allah membelah langit dan bumi dengan jalan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi. selanjutnya segala makhluk yang hidup membutuhkan air atau pemeliharaan kehidupan segala sesuatu adalah dengan air dijadikan dari cairan yang terpancar dari sulbi (sperma) segala yang hidup yakni dari jenis binatang. Air merupakan komponen terpenting dalam pembentukan sel yang merupakan satuan bangunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan.
Dalam surat an-Nur ayat 45, surat Thaha ayat 53 dan surat al-Hajj ayat 5, menurut para ilmuan sains dan teknologi serta mufassir lain, (yakni As-Suyuthi,Jalaluddin, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur. Bairut: Darr al- Fikr, 1994) ada tiga pendapat yang terkait dengan kehidupan yang dimulai dari air, baik itu dari tingkat keanekaragaman dan klasifikasinya, yaitu:
a) Kehidupan dimulai dari air dalam hal ini laut. Teori ini percaya bahwa kehidupan muncul dari rantai reaksi kimia yang panjang dan komplek. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari dalam air laut, karena kondisi atmosfer saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni makhluk hidup karena radiasi ultra violet yang terlalu kuat.
b) Peran air bagi kehidupan dapat juga diekspresikan dalam bentuk bahwa semua benda hidup, terutama kelompok hewan, berasal dari cairan sperma.
c) Bahwa air merupakan bagian yang penting agar makhluk dapat hidup. Pada kenyataannya, memang sebagian besar bagian tubuh makhluk hidup terdiri dari air. 

  •   •   •     •     •          •         
Terjemahan : “dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Qs.An-Nur : 45).

2) Dalam surat al-Shad ayat 71-72, menurut Hamka (Hamka, Tafsir Al- Azhar. juz I-II (Jakarta; PT Pustaka Panjimas 1983), dalam memahami ayat tersebut bahwa Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air yang memancar sebagaimana Dia menciptakan tumbuhan dari air yang tercurah. Lalu Allah menjadikan hewan-hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, seperti buaya, ular, dan hewan melata lainnya, dan sebagian berjalan dengan dua kaki, seperti manusia, burung, sedangkan yang lain berjalan dengan empat kaki, seperti sapi, kambing, dan lain-lain, dan ada juga yang berjalan dengan menggunakan lebih dari empat kaki, seperti kalajengking, laba-laba, dan lain-lain.
3) Menurut Tafsir Inspirasi (Tafsir inspirasi karangan Zainal Arifin Zakaria, Cet. II (Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013, dan diterbitkan juga oleh Duta Azhar Medan tahun 2013), dikatakan bahwa dalam surat al-Insan ayat 2, manusia itu berasal dari tetesan mani (sperma) yang dimasukkan ke dalam rahim ibu, sehingga terjadilah proses pembentukan manusia, dari zigot sampai kepada bentuk segumpulan darah, tulang, daging dan kulit.
4) Menurut Tafsir al-Ahkam (tafsir Al-Ahkam karangan Syekh Abdul Halim Hasan Binjai yang berjudul Tafsir Al-Ahkam Cet.I Tahun 2006), dalam memahami surat al-Insan ayat 2, yakni tentang peristiwa Adam bersama malaikat dan iblis. Di mana Adam diciptkaan dari tanah yang bercampur dengan air. Berdasarkan kajian ilmiah bahan penciptaan manusia adalah tanah, persisnya yaitu tanah liat. Istilah liat biasa dipakai untuk menamai butiran tanah dengan ukuran yang paling kecil, diameter di bawah 0,5 mikron (1/200 mm). Istilah liat juga biasa dipakai untuk menamai jenis mineral pembentuk butiran tanah paling kecil. Karena ukurannya yang kecil, liat bila dimasukkan kedalam air akan bersifat koloidal/tidak melarut tetapi tersebar merata dan sulit dipisahkan dari air.
6. Asbab an-Nuzul dan Munasabah
Asbab an-Nuzul dan Munasabahnya dinarasikan sebagai berikut;

                      
Terjemahan : “yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”(Qs.Thaha:53).

Allah menempatkan manusia di bumi dengan menghamparkannya agar mereka dapat menikmati hidup dan berbekal guna kehidupan akhiratnya, serupa dengan bayi yang ditempatkan dalam buaian dan didik guna meraih kehidupan yang lebih mulia dan tinggi. Allah menjadikan manusia di bumi ini agar ia menyadari bahwa ada jarak antara ia dan tujuan hidupnya. Ada jalan yang harus ditempuhnya guna mencapai tujuan hidup itu, yakni pendekatan diri kepada Allah dan upaya masuk ke hadirat-Nya, sebagaimana halnya ia menempuh jalan-jalan di permukaan bumi ini untuk mencapai arah dan tujuan yang ditujunya. Allah menurunkan air dari langit berupa hujan dan juga mata air dan sungai-sungai serta lautan, lalu ditumbuhkan dari air itu aneka macam dan jenis tumbuhan lalu Allah memberi hidayah kepada manusia dan binatang untuk memanfaatkan buahbuahan dan tunmbuh-tumbuhan itu untuk kelanjutan hidupnya, sebagaimana terdapat juga isyarat bahwa Allah memberikan hidayah kepada langit guna menurunkan hujan, dan hidayah buat hujan agar turun tercurah, dan untuk tumbuh-tumbuhan agar tumbuh berkembang.
M.Quraish Shihab menyatakan reproduksi/berpasang-pasangan dalam surat al-Syura ayat 11 tentang asbab an-Nuzul dan Munasabahnya, bahwa Dia (Allah) telah menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, baik sebagai lelaki (suami) maupun perempuan (isteri), dan menjadikan pula dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan buat masing-masing binatang, baik jantan maupun betina, sehingga kamu dan binatang-binatang itu dapat melanjutkan keturunan. Dengan pengaturan-Nya itu Dia terus menerus mengembangbiakkan kamu, yakni menjadikan kamu banyak serta merasa bahagia di dalamnya. Jadi, di sana ada kesatuan penciptaan yang membuktikan kesatuan pola, kehendak, dan tujuan.
Menurut Hamka, bahwa Laba-laba adalah serangga besar berkaki delapan berwarna abu-abu kehitam-hitaman. Serangga ini biasa menjalin jaring dari benang sutera yang dihasilkan dari perutnya sebagai sarang sekaligus perangkap mangsa. Sarang laba-laba itu ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh.
















Kesimpulan :
Term pengetahuan biologi tidak dijumpai dalam ayat Alquran. Namun banyak ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi sersebut. Pengetahuan biologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan obyek kajiannya yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Di antara ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi yaitu: Asal kejadian: QS. al-Anbiya : 30, QS. al-Nur: 45, QS. Shad: 71-72, QS. al-Insan: 2, Keanekaragaman dan klasifikasi: QS. Thaha: 53, QS. al-Hajj: 5, Reproduksi/berpasang-pasangan: QS.al-Syura: 11, QS. al-Hijr: 22, QS. Yasin: 36, Zoologi invertebrata: QS. al-Ankabut: 41, QS. al-Syura: 29, Zoologi vertebrata: QS. al-Mulk: 19, Tingkah laku hewan: QS. al-Nahal: 68, Indra (kulit): QS. al-Nisa: 56, dan tubuh hewan (unta):QS. al-Ghasyiyah: 17.
Dengan adanya kajian ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan biologi, jelaslah bahwa di dalam Alquran ayat-ayatnya tidak ada satupun yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, bahkan sebaliknya mendorong untuk lebih maju lagi. Hal ini sangat bermanfaat bagi manusia. Bahwa manfaat adanya pengetahuan biologi, Allah swt. menciptakan hewan untuk kepentingan manusia, sehingga manusia sangat membutuhkan hewan untuk dijadikan konsumsi.



















Daftar Pustaka :

Abdurrahman Al-Allamah bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah Ibnu Khaldun, terj.Masturi Irham dkk (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, cet. 3, 2013),
Winansih Varia, Pendidikan Ilmu-Ilmu Kealaman Dalam Hadis, dalam Hasan Asari, Hadis-Hadis Pendidikan Sebuah penelusuran Akar-Akar ilmu Pendidikan Islam (Bandung:Citapustaka Media Perintis, cet. 1, 2008),
Shihab M. Quraish, Membumikan Alquran Fungsi dan peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, Edisi 2, Cet. 1, 2013),
Ibid. h. 111.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Jakarta: Gramedia, edisi 4, cet. 1, 2008),
Ibid, h. 197.
Thoha A. Husein Almujahid & Atho’illah Fathoni Alkhalil, Kamus Akbar Bahasa Arab (Indonesia-Arab),(Jakarta: Gema Insani, 2013),
QS. al-Anbiya : 30.
Quraish Shihab M., Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran Volume 8 Cet.V (Jakarta: Lentera Hati, 2012),
Sakho Akhsin Muhammad dkk, Alquran Dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, Jilid 6, 2011), h. 251. lih. Juga tafsir Jalaluddin as-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur (Bairut: Darr al- Fikr, 1994),
QS. al-Nur: 45.
Hamka, Tafsir Al-Azhar. juz I-II (Jakarta; PT Pustaka Panjimas 1983),
Arifin Zainal Zakaria, Tafsir Inspirasi. Cet. II (Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013, dan diterbitkan juga oleh Duta Azhar Medan tahun 2013),
Abdul Syekh Halim Hasan Binjai, Tafsir Al-Ahkam. Cet.I (Tahun 2006),
Sakho Akhsin Muhammad dkk, Alquran Dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, Jilid 8, 2011),
QS. Thaha: 53.
Quraish M. Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran (Jakarta: Lentera Hati, Volume 7, Cet. 5, 2012),
Quraish M. Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran (Jakarta: Lentera Hati, Volume 12, Cet. 5, 2012),
Quthb Sayyid, Tafsir fi Zhilalil Quran di Bawah Naungan Alquran (Jakarta: Gema Insani Press, Jilid 10, cet. 2, 2008),
Hamka, Tafsir Al-Azhar, juz I-II (Jakarta; PT Pustaka Panjimas,1983),
Sakho Akhsin Muhammad dkk, Alquran Dan Tafsirnya Jilid VII (Jakarta: Widya Cahaya, 2011),













Tidak ada komentar:

Posting Komentar