PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM AL-QUR’AN
Uswatun Hasan
Email: uswatunhasan70@gmail.com
Abstrak
Artikel ini berjudul
tentang Pendidikan Biologi dalam Al-Qur’an, sehingga merupakan jenis artikel
yang membahas tentang pendidikan biologi dalam pandangan Islam, yang paling
penting untuk kita ketahui terutama kaum Muslim. Pendidikan biologi merupakan
suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan objek kajiannya yaitu
manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan
pendidikan biologi yaitu: Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat
12-14. Untuk analisis data ia harus menggunakan analisis dari aspek bahasa dan
sastra (Mufradat) yaitu dalam Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun
ayat 12-14. Dan mempunyai Azbabun Nuzul Qur’an. Sehingga mempunyai beberapa
hadits atau ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi, yaitu: H.Shahih Bukhari
nomor 2152, H.Sunan Abu Daud nomor 2477,
H. Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari
Sa’id secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Qs. As-Sajdah
ayat 27, Qs. Faathir ayat 12. Adapun pendidikan biologi mempunyai beberapa
pandangan menurut para Ulama/Ahli, dalam
Qs.Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Kandungan makna dalam
Qs. AL-Imran ayat 190-191 yaitu Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda
kekuasan Allah. Sedangkan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah Manusia
diciptakan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa
fase penciptaan dan kejadiannya. Akan tetapi, pesan-pesan pendidikan biologi
dalam Qs. Al-imran ayat 190-191 yaitu hanya orang-orang yang mau terbuka
hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui
tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah yang
menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian
dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi
pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang
sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan
yang kokoh yaitu rahim.
Kata
Kunci : Pendidikan, Biologi, Al-Qur’an
Pendahuluan
Al-qur’an adalah
kitab Suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Yang
berlaku sampai akhir zaman nanti. Disadari atau tidak, Al-Qur’an memiliki
berbagai fungsi yang sangat memberikan petunjuk kepada manusia, jika manusia
sendiri mau mengimani Al-Qur’an itu sendiri, dan jika dipahami akan membuat
kita selamat dunia dan akhirat. Al-Qur’an memuat banyak sekali
nilai-nilai/aspek pendidikan yang penting sekali untuk kita ketahui. Diantara
banyak aspek pendidikan yang tercantum atau dibahas dalam Al-Qur’an, yang
terdapat satu aspek pendidikan yang akan dibahas yakni aspek pendidik biologi. Masalah
pendidikan sangatlah kompleks karena di semua aspeknya terdapat persoalan yang
perlu diselesaikan. Dekandensi moral telah merajalela dalam dunia pendidikan
sehingga menjadi potret buram dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari
maraknya perkelahian antar pelajar, banyaknya kasus narkoba yang menjeret siswa
dan banyak lagi hal lainnya yang bersifat negatif.
Pendidikan
biologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan objek
kajiannya yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Diantara ayat-ayat yang
berkaitan dengan pendidikan biologi yaitu: Qs. Al-Imran ayat 190-19 dan Qs.
Al-Mu’minun ayat 12-14. Untuk analisis data ia harus menggunakan analisis dari
aspek bahasa dan sastra (Mufradat) yaitu dalam Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan
Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Dan mempunyai Azbabun Nuzul Qur’an. Sehingga
mempunyai beberapa hadits atau ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi,
yaitu: H.Shahih Bukhari nomor 2152, H.Sunan Abu Daud nomor 2477, H. Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari Sa’id secara
marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Qs. As-Sajdah
ayat 27, Qs. Faathir ayat 12. Adapun pendidikan biologi mempunyai beberapa
pandangan menurut para Ulama/Ahli, dalam
Qs.Al-Imran ayat 190-191 yaitu : Syaikh Imam Al-Qurthubi, Ahmad Mustafa
Al-Maragi, Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, M. Quraish Shihab,
dan Prof. Dr. Hamka. dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 yaitu : Ṭanṭawi Jauhāri dalam kitabnya al-Jawāhir
fī Tafsīr al-Qurān
al-Karīm mengatakan
bahwa manusia (Adam) diciptakan dari saripati yang keruh. Kemudian
dijelaskan bahwa manusia makan buah-buahan , biji-bijian dan daging dan
dari itulah yang menjadi darah dan diantaranya menjadi air mani yang kemudian
melahirkan keturunan manusia. Allah kemudian menjadikan keturunan Adam
dari nuṭfah yakni air mani yang
disimpan pada tempat yang kokoh yakni kandungan pada rahim dan dari situlah
tempat menetapnya air mani sampai waktu kelahiran pada derajat panas yang
stabil sehingga mampu bertahan dan menetap.Allah kemudian membentuk air mani
itu sepotong darah yang beku dan dijadikan darah beku itu menjadi
sepotong daging kecil seukuran apa yang bisa dikunyah. Sepotong daging
itu Allah jadikan tulang-belulang dengan keistimewaan diantaranya,
adanya unsur-unsur yang masuk pada materi tulang yang dijadikan
tulang-belulang dan adanya unsur daging yang dijadikan daging dan unsur
kelahiran yang sempurna seluruhnya dimana bahannya berasal dari darah.
Kandungan makna dalam
Qs. AL-Imran ayat 190-191 yaitu Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda
kekuasan Allah. Sedangkan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah Manusia
diciptakan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa
fase penciptaan dan kejadiannya. Akan tetapi, pesan-pesan pendidikan biologi
dalam Qs. Al-imran ayat 190-191 yaitu hanya orang-orang yang mau terbuka
hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui
tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah yang
menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian
dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi
pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang
sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan
yang kokoh yaitu rahim.
Maka dari itu, tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui betapa
pentingnya belajar pendidikan biologi yang terdapat dalam AL-Qur’an, karena
tujuan Islam yaitu membentuk manusia yang mempunyai pendidikan biologi yang
paripurna sesuai dengan tuntunan Islam (Al-Qur’an) dan selalu mendekatkan diri
Kepada Allah SWT. Adapun manfaat penulisan artikel ini yaitu, kita semua mampu
untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an sebaga petunjuk dan pedoman hidup
manusia agar ajarannya dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari,
terutama dalam bidang pendidikan biologi. Serta sebagai upaya untuk
mengembangkan pengetahuan pada diri penulis maupun bagi orang lain.
Pembahasan
A. Ayat-ayat yang Berkaitan
1.
Qs.
Al-Imran ayat 190-191
cÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ tûïÏ%©!$# tbrãä.õt ©!$# $VJ»uÏ% #Yqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbrã¤6xÿtGtur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $uZ/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ
Terjemahan
: 190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Agama, Al-Qur’an Dan Tafsirnya)
2. Qs. Al-Mu’minun ayat 14
¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sø:$# ÇÊÍÈ
Terjemahan
: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami
jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta
yang paling baik.
B. Analisis Mufradat (Bahasa dan Sastra)
1. Qs. Al-Imran ayat 190-191
|
Mufrodat/Kosa Kata |
Arti/Makna |
Mufradat/Kosa Kata |
Arti/Makna |
|
,ù=yz |
Penciptaan
(menunjukkan tatanan yang mantap) |
Îû cÎ) |
Sesungguhnya dalam |
|
ÈÚöF{$#ur |
Bumi (Tempat kamu hidup) |
Nºuq»yJ¡¡9$# |
Langit (alam yang ada di atasmu) |
|
M»tUy |
Sungguh merupakan tanda-tanda |
Í$pk¨]9$#ur È@ø©9$# #»n=ÏF÷z$#ur |
Dan silih bergantinya siang dan malam |
|
!$#
brãä.õt ûïÏ%©!$# |
Orang-orang yang mengingat Allah |
É=»t6ø9F{$#Í<'rT[{ |
Bagi orang-orang yang berakal |
|
4 öNÎgÎ/qãZã_n?tãur |
Dan berbaring |
#Yqãèè%ur $VJ»uÏ% |
Berdiri dan duduk |
|
È Ï ÇÚöF{$#ur N ºuq»uK¡¡9$# ,ù=yz Îû |
Tentang
penciptaan langit dan bumi |
brã¤6xÿtGtur |
Dan mereka memikirkan |
|
#x»yd Mø)n=yz$tB |
Tidaklah
Engkau ciptakan ini |
$uZ/u |
Wahai Tuhan kami |
|
7oY»ysö6ß |
Maha Suci
Engkau dari hal-hal yang tidak layak bagi-Mu |
xÏÜ»t/ |
Sia-sia yang tidak ada faedahnya |
|
|
|
Í$¨Z9$# >#xtã $oYÉ)sù |
Jadikanlah amal saleh
itu sebagai tameng kami dari azab neraka |
Istilah ulūl-albāb
terdiri
dari dua kata, yaitu ulūdan
al-albāb.Yang
pertama merupakan bentuk jamak yang bermakna żawu
(mereka
yang mempunyai).Sedang kata kedua “al-albāb”
adalah bentuk jamak dari lubb yaitu saripati sesuatu.Kacang, misalnya
memiliki kulit yang menutupi isinya.Isi kacang dinamai lubb.Ulūl-albāb
adalah
orang-orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yakni
kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. (Quraish)Orang yang mau
menggunakan akal pikirannya untuk merenungkan atau menganalisa fenomena alam
akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keEsaan dan kekuasaan
Tuhan. (Agama, AL-Qur’an
Dan Tafsir)
2. Qs. Al-Mu;minun ayat 12-14
|
Mufradat/Kosa
Kata |
Arti/Makna |
Mufradat/Kosa
Kata |
Arti/Makna |
|
s)s9ur |
Dan
sesungguhnya |
spxÿôÜZ9$#$uZø)n=yz |
Air
mani itu |
|
$oYø)n=yz |
Kami
telah menciptakan |
ps)n=tæ |
Segumpal
darah |
|
`»|¡SM}$# |
manusia |
sps)n=yèø9$#$uZø)n=ysù |
Kami
jadikan segumpal darah itu |
|
7's#»n=ß `ÏB |
Dari
saripati |
ptóôÒãB |
Menjadi
segumpal daging |
|
&ûüÏÛ `ÏiB |
Dari
tanah |
ptóôÒßJø9$#$uZø)n=ysù |
Kami
jadikan tulang-belulang |
|
§NèO |
Kemudian
|
z $VJøtm:O»sàÏèø9$#$tRöq|¡s3sù |
Kami
bungkus dengan daging |
|
m»oYù=yèy_ |
Kami
jadikan |
¢ çm»tRù't±Sr&OèO |
Kemudian
kami jadikan |
|
pxÿôÜçR |
Air
mani |
tyz#uä$¸)ù=yz |
Makhluk
(yang bentuk) lain |
|
Îû
9#ts% |
Dalam
tempat yang kukuh |
x ª!$#8u$t7tFsù |
Mahasuci
Allah |
|
OèO |
Kemudian
|
ªtûüÉ)Î=»sø:$#ß`|¡ômr& |
Pencipta
yang paling baik |
C. Asbabun- Nuzul Al-Qur’an
1. Qs. Al-Imran ayat 190-191(A. I. K. Imam)
قل
اطبر اني : حدثنا الحسين بن إسحاق التستري, حدثنا يحي الحماني, حدسنا يعقوب عن
جعفر بن أبي المغيرة, عن سعيد بن جبير, عن ابن عباس, قال: أنت قريش اليهود, فقالوا
: بم جاءكم؟ قالوا: عصاه ويده بيضاء الناظرين, وأتوا النصارى فقالوا : كيف كان
عيسى؟ قالوا : كان يبر ئ الأكمه و الأبرص, ويهي الموتى, فأتو النبي صلى الله عليه
و سلم فقالوا : ادع الله أن يجعل لنا الصفاذهباَ, فذعاربه, فنزلت هذه الاية (إن في
خلق السماوات والارض واختلاف اليل و النهار لايات الأولى الألباب) فليتفكروافيه
Terjemahan : Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas,
dia berkata, “orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya
kepada mereka, apa tanda-tanda yang dibawa Musa kepada kalian?” orang-orang
Yahudi itu menjawab “Tongkat dan tangan yang putih bagi orang-orang yang
melihatnya.” Lalu orang-orang Quraisy itu mendatangi orang-orang Nasrani, lalu
bertanya kepada mereka, “apa tanda-tanda yang diperlihatkan Isa?.” Mereka
menjawab, “Dia dulu menyembuhkan orang yang buta, orang yang sakit kusta dan
menghidupkan orang mati.” Lalu mereka mendatangi Nabi SAW. lalu berkata kepada
beliau, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit shafa menjadi emas untuk
kami.” Lalu beliau berdoa, maka turunlah firman Allah (Q.S Ali Imran 190) ini. (As-Suyuthi)
2. Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14
Asbab al-nuzul al-Qur‟an
adalah sesuatu yang turun satu ayat atau beberapa ayat berbicara
tentangnya (sesuatu itu) atau menjelaskan ketentuanketentuan hukum yang
terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut. Pendapat ini
dikemukakan oleh al-Zarqānī.(Baidan)Istilah “sebab” di sini, tidak sama pengertiannya
dengan istilah “sebab” yang dikenal dalam hukum kausalitas. Istilah
“sebab” dalam hukum kausalitas, merupakan keharusan wujudnya untuk
lahirnya suatu akibat. Suatu akibat tidak akan terjadi tanpa ada sebab
terlebih dahulu. Bagi al-Qur‟an, walaupun di antara ayatnya yang turun
didahului oleh sebab tertentu, tetapi sebab di sini, secara teoritis
tidak mutlak adanya, walaupun secara empiris telah terjadi peristiwanya. Adanya
sebab nuzul al-Qur‟an, merupakan salah satu manifestasi kebijaksanaan Allah
dalam membimbing hamba-Nya.
Dengan adanya asbab
al-nuzul, akan lebih tampak keabsahan al-Qur‟an sebagai petunjuk yang sesuai
dengan kebutuhan dan kesanggupan manusia. (Ibid)Adapun asbab al-nuzul Q.S. al-Mu‟minūn/ 23: 12-14,
diberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Hafiẓ,
berkata: diberitakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Hayyan,
berkata: diberitakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman, berkata: diceritakan
kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Suwaid bin Manjuf, berkata:
diceritakan kepada kami Abu Daud, dari Hammad bin Salmah, dari, Ali bin
Zaid bin Jud‟an, dari Anas bin Malik, berkata: Umar bin Khathab r.a.
berkata: pandanganku yang sejalan dengan kehendak Allah.
D. Hadits yang Berikatan dengan Pendidikan dalam
Al-Qur’an
1. H.Shahih Bukhari nomor 2152
حَدَّ ثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّ ثَنَا
أَبُوعَوَانَةَح وحَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّ حْمَنِ بْنُ الْمُبَرَكِ حَدَّثَنَا
أَبُوْعَوَانَةَعَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَعَنْ أَنْسِ بْنِ مَلِكِ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَا مِنْ
مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْيَزْرَعُ زَرْعًافَيَاْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ
أَوْإِنْسَانٌ أَوْبَهِمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ وَقَالَ لَنَا
مُسْاِمٌ حَدَّسَناَ أَبَانُ حَدَّسَنَا قَتَادَةُ حَدَّسَنَاأَنَسٌ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Terjemahan : “Telah menceritakan
kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu’Awanah. Dan
diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya ‘Abdurahman bin Almubarak
telah menceritakan kepada kami ‘Abu Awanah dari Qutabah dari Anas bin Malik Ra.
Berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok
tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau
manusia atau hewan melainkan itu menjadi sadaqah baginya”. Dan berkata, kepada
kami Muslim telah menceritakan kepada saya Aban telan menceritakan kepada kami
Qatadah telah menceritakan kepada kami. Anas dari Nabi SAW. (Shahih Bukhari :
2152).
2. H.Sunan Abu Daud
nomor 2477
حَدَّثَنَايَحْيَ بْنُ مَعِيْنٍ
حَدَّثَنَا حَمَّادُبْنُ خَالِدٍ الْخَيَّاطُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِبْنِ نُفَيْرٍعَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ
الْخُشَنِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ إِذَا
رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَأَدْرَكْتَهُ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ وَسَهْمُكَ فِيْهِ
فَكُلْهُ مَالَمْ يُنْتِنْ
Terjemahan
: “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin ma’in, telah menceritaka kepada
kami Hammad bin Khalid Al Khayyath, dari Mu’awiyah bin Shalih dari Abdurrahman
bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Tsa’labah Al Khusyani, dari Nabi
shalallahu’alaihi wasallam, beliau berasbda: “apabila engkau memanah hewan
buruan kemudian engkau mendapatinya setelah tiga malam dan anak panahmu ada
adanya, maka makanlah” selama belum membusuk! (Sunan abu daud : 2477)
3.
Didalam hadits Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari Sa’id
secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Allah berfirman :
* uqèdur üÏ%©!$# r't±Sr& ;M»¨Yy_ ;M»x©rá÷è¨B uöxîur ;M»x©râ÷êtB @÷¨Z9$#ur tíö¨9$#ur $¸ÿÎ=tFøèC ¼ã&é#à2é& cqçG÷¨9$#ur c$¨B9$#ur $\kÈ:»t±tFãB uöxîur 7mÎ7»t±tFãB 4 (#qè=à2 `ÏB ÿ¾ÍnÌyJrO !#sÎ) tyJøOr& (#qè?#uäur ¼çm¤)ym uQöqt ¾ÍnÏ$|Áym ( wur (#þqèùÎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) w =Ïtä úüÏùÎô£ßJø9$# ÇÊÍÊÈ
Terjemahan :
“dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah
dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya
di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan
janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.”
Disebutkan, “Buah yang terjatuh dari
bulirnya.” Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.
4. Qs. As-Sajdah ayat 27
öNs9urr& (#÷rtt $¯Rr& ä-qÝ¡nS uä!$yJø9$# n<Î) ÇÚöF{$# Îãàfø9$# ßlÌ÷ãYsù ¾ÏmÎ/ %Yæöy ã@à2ù's? çm÷ZÏB öNßgßJ»yè÷Rr& öNåkߦàÿRr&ur ( xsùr& tbrçÅÇö7ã ÇËÐÈ
Terjemahan
:”dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang
mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu
tanaman yang daripadanya Makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka
Apakah mereka tidak memperhatikan?
5. Qs. Faathir ayat 12
$tBur ÈqtGó¡o Èb#tóst7ø9$# #x»yd Ò>õtã ÔN#tèù Ô÷ͬ!$y ¼çmç/#u° #x»ydur ìxù=ÏB Ól%y`é& ( `ÏBur 9e@ä. tbqè=à2ù's? $VJóss9 $wÌsÛ tbqã_Ì÷tFó¡n@ur Zpuù=Ïm $ygtRqÝ¡t6ù=s? ( ts?ur y7ù=àÿø9$# ÏmÏù tÅz#uqtB (#qäótGö;tGÏ9 `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù öNä3¯=yès9ur crãà6ô±n@ ÇÊËÈ
Terjemahan
: “dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan
yang lain asin lagi pahit. dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan
daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu
memakainya, dan pada masing-masingnya kamu Lihat kapal-kapal berlayar membelah
laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.
E. Pandangan Ulama/Ahli
1. Pandangan Para Mufassir
Terhadap Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 190-191
Dari uraian penjelasan mengenai kedua ayat diatas dapat dipahami bahwa
terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan langit dan bumi seisinya
bagi orang yang berakal yang mau mengingat dan memikirkannya dalam keadaan
duduk, berdiri, berbaring dan sebagainya. Berikut ini tafsiran para ulama
mengenai ayat tersebut melalui ijtihadnya:
· Surat Ali Ilmran Ayat 190
a. Syaikh Imam al-Qurthubi
Allah SWT memerintahkan kita untuk melihat, merenung, dan mengambil
kesimpulan pada tanda-tanda ke-Tuhanan. Karena tanda-tanda tersebut tidak
mungkin ada kecuali diciptakan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Suci, Maha
Menyelamatkan, Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun yang ada di alam semesta.
Dengan menyakini hal tersebut maka keimanan mereka bersandarkan atas keyakinan
yang benar dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Pada lafadz ;M»tUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# “Terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Inilah salah satu fungsi akal
yang diberikan kepada seluruh manusia, yaitu agar mereka dapat menggunakan akal
tersebut untuk merenungi tanda-tanda yang telah diberikan oleh Allah SWT. (S. al-Q. Imam)
Al-Hasan menambahkan: tafakkur adalah cermin seorang mukmin, ia dapat
melihat segala kebaikan dan keburukan melaluinya. Dan beberapa hal yang harus
direnungi pada saat tafakkur adalah ancaman-ancaman dan janji-jani yang
dipersiakan untuk di akhirat annti, yaitu hari kiamat, hari kebangkitan, surge
dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, juga neraka dan segala siksa yang
terdapat di dalamnya.
b. Ahmad Mustafa Al-Maragi
Sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan
keajaiban ciptaan-Nya dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur
sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita
dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan
pengaruhnya pada dunia flora dan fauna, dan sebagainya merupakan tanda dan
bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
c. Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
Sesungguhnya dalam peraturan langit dan bumi serta keindahannya, di dalam
pergantian malam dan siang, serta terus menerus beriring-iringan melalui aturan
yang paling baik (harmonis), yang nyata pengaruhnya pada tubuh dan akal kita,
seperti panas dan dingin, demikian pula pada binatang dan tumbuh-tumbuhan,
semua itu merupakan dalil (bukti) yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan
ilmu dan kodrat-Nya, bagi semua orang yang berakal kuat. (Muhammad Hasbi)
d. M. Quraish Shihab
Ayat ini mengundang manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam
penciptaan, yakni benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, dan jutaan
gugusan bintang yang terdapat di langit atau dalam pengaturan sistem
kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada
porosnya, yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang perbedaannya,
baik dalam masa maupun dalam panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda
kemahakuasaan Allah bagiulūl-albāb, yakni
orang-orang yang memiliki akal yang murni. (Quraish)
e. Prof. Dr. HAMKA
Langit dan bumi dijadikan oleh Sang Khaliq, sangat indah dengan tersusun
tertib dan sesuai aturan. Silih berganti malam dengan siang, betapa besar
pengaruhnya terhadap kehidupan segala yang bernyawa.Terkadang malamnya pendek,
siangnya panjang atau sebaliknya.Terdapat musim panas, musim dingin, musim
hujan, musim gugur, musim semi, bahkan musim salju selamanya seperti yang
terjadi di kutub.Semua ini menjadi ayat, tanda bagi orang yang berpikir, bahwa
tidaklah semuanya ini terjadi dengan sendirinya.Sempurnanya ciptaan-Nya
tandanya menjadikan indah.Mulia belaka, tanda yang melindunginya mulia adanya.
Orang yang melihatnya dan mempergunakan pikiran meninjaunya, masing-masing
sesuai bakat pikirannya.Entah seorang ahli ilmu alam, ahli ilmu binatang, ahli
ilmu tumbuh-tumbuhan, ahli pertambangan, ahli filosof, ataupun seorang penyair
dan seniman sekalipun. Semuanya akan dipesona oleh keteraturan alam semesta
yang luar biasa. Terasa kecil dihadapan keajaiban alam, terasa kecil alam dihadapan
kebesaran penciptanya. Pada akhirnya tiada arti diri, tiada arti alam, yang ada
hanyalah DIA, yaitu yag sebenarnya DIA. Karena kita manusia (al-hayawan
an-nathiq) kita berpikir. Layaknya ulūl-albāb memiliki
intisari, mempunyai pikiran. Mempunyai biji akal (potensi) yang bila ditanam
dengan baik akan tumbuh. (Abdul)
· Surat Ali Imran Ayat 191
a. Syaikh Imam al-Qurthubi
Pada ayat ini Allah menyebutkan tiga keadaan yang sering dilakukan oleh
manusia pada tiap-tiap waktunya.Dikatakan Rasulullah selalu berdzikir kepada
Allah dalam setiap keadaannya. Dzikir dalam arti umum dapat dilakukan dalam
berbagai keadaan, walaupun ketika berada di kamar mandi atau tempat-tempat
kurang baik, karena pahalanya akan tetap ditulis oleh malaikat tanpa melihat
lokasi tempat berdzikir. Pendapat ini dihukumi oleh para ulama dengan makruh
beralasan, karena berdzikir kapada Allah pada tempat-tempat seperti itu
mengurangi kesantunan terhadap Allah, misalnya dengan membaca Al-Qur‟an di
kamar mandi, bukankah akhlak kita mencegah perbuatan seperti itu.
Para ulama berpendapat dzikir dalam konteks ini diartikan dengan shalat
bahwa kewajiban shalat dilakukan dengan berdiri, namun apabila tidak sanggup
dengan duduk, dan berbaring jika tidak kuasa untuk duduk. (S. al-Q. Imam)
b. Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
Orang yang berakal (Ulūl-albāb) adalah
orang yang memperhatikan penciptaan langit dan bumi beserta isi dan
hokum-hukumnya, lalu mengingat penciptanya yakni Allah, dalam segala
keadaaan.Kemenangan dan keberuntungan hanyalah dengan mengingat kebesaran Allah
serta memikirkan segala makhluk-Nya yang menunjuk kepada adanya Sang Khaliq
yang Esa.Yang memiliki ilmu dan kodrat, yang diiringi oleh iman dan taqwa.
Dalam kegiatan tafakkur mereka juga mengingat Allah seraya lisannya berucap
memuji keagungan dan kebesaran-Nya atas ciptaan yang mengandung hikmah dan
kemashlahatan. Masing-masing orang akan memperoleh pembalasan atas amal
perbuatannya kelak, baik itu amal shalih maupun buruk. (Muhammad Hasbi)
c. Prof. Dr. HAMKA
Orang yang berpikiranartinya orang yang tidak pernah lepas dari mengingat
Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring.Kata yadzkurūna berarti ingat berpokok pada kata dzikir.Disebutkan pula, bahwasanya dzikir
hendaklah bertali diantara sebutan dan ingatan.Kita mampu menyebut Asma Allah
dengan mulut karena telah teringat terlebih dahulu dalam hati.Sesudah
pengelihatan atas kejadian langit dan bumi, atau pergantian siang dan malam,
langsungkan ingatan kepada yang menciptakannya.Karena jelaslah dengan sebab
ilmu pengetahuan bahwa semuanya itu tidaklah ada yang terjadi sia-sia atau
secara kebetulan.Kegiatan mengingat (tadzakkur) itu berhubungan dengan
kegiatan memikirkan (tafakkur). Lanjutan perasaan setelah mengingat dan
berpikir, yaitu tawakkal dan ridla, berserah diri dan mengakui
kelemahan.Seyogyanya bertambah tinggi ilmu seseorang bertambah ingatlah kepada
Allah.Sebagai alamat pengakuan atas kelemahannya dihadapan Allah, timbullah
bakti dan ibadat sebagai hamba kepada penciptanya. (Abdul)
d. M. Quraish shihab
Ayat tersebut menjelaskan sebagian dari ciri-ciri siapa yang dinamai Ulūl-albāb. Mereka
adalah orang baik laki-laki atau perempuan yang terus-menerus mengingat Allah,
dengan ucapan dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi apapun.Obyek
dzikir adalah Allah, sedangkan obyek akal pikiran adalah seluruh makhluk
ciptaan-Nya.Akal diberi kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena
alam, dan terdapat keterbatasan dalam memikirkan dzat Allah. (Quraish)
e. Ahmad Mustafa al-Maragi
Ulūl-albāb adalah
orang-orang yang mau menggunakan pikirannya, mengambil faedah darinya,
mengambil hidayah darinya, menggambarkan keagungan Allah dan mau mengingat
hikmah akal dan keutamaannya, di samping keagungan karunia-Nya dalam segala
sikap dan perbuatan mereka, sehingga mereka bisa berdiri, duduk, berjalan,
berbaring dan sebagainya. Mereka tidak lalai untuk mengingat Allah dalam
sebagian waktunya, merasa tenang dengan mengingat Allah dan tenggelam dalam
kesibukan mengoreksi diri secara sadar bahwa Allah selalu mengawasi mereka.
Seorang mukmin yang mau menggunakan akal pikirannya, selalu menaruh
pengharapan hanya kepada Allah melalui pujian, doa dan ibtihal, setelah melihat
bukti-bukti keagungan Allah yang menunnjukkan keindahan hikmah. Mereka tahu
bagaimana berbicara dengan Tuhan ketika telah mendapatkan hidayah terhadap
sesuatu terkait dengan kebajikan dan kedermawanan-Nya dalam menghadapi ragam
makhluk-Nya. (Mustafa)
2. Pendapat Mufassir Tentang
Proses Penciptaan Manusia dalam Q.S. Al-Mu’minun/ 23: 12-14.
Ṭanṭawi Jauhāri dalam kitabnya al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qurān al-Karīm mengatakan
bahwa manusia (Adam) diciptakan dari saripati yang keruh. Kemudian
dijelaskan bahwa manusia makan buah-buahan , biji-bijian dan daging dan
dari itulah yang menjadi darah dan diantaranya menjadi air mani yang kemudian
melahirkan keturunan manusia. Allah kemudian menjadikan keturunan Adam
dari nuṭfah yakni air mani yang
disimpan pada tempat yang kokoh yakni kandungan pada rahim dan dari situlah
tempat menetapnya air mani sampai waktu kelahiran pada derajat panas yang
stabil sehingga mampu bertahan dan menetap.Allah kemudian membentuk air mani
itu sepotong darah yang beku dan dijadikan darah beku itu menjadi
sepotong daging kecil seukuran apa yang bisa dikunyah. Sepotong daging
itu Allah jadikan tulang-belulang dengan keistimewaan diantaranya,
adanya unsur-unsur yang masuk pada materi tulang yang dijadikan
tulang-belulang dan adanya unsur daging yang dijadikan daging dan unsur
kelahiran yang sempurna seluruhnya dimana bahannya berasal dari darah.
Allah kemudian menjadikannya makhluk (berbentuk) lain. Allah menghembuskan
ruh dan menjadikannya hewan setelah diserupakan benda mati yang berfikir, tidak
bisu, mendengar dan melihat. Allah menjadikannya sesuatu yang aneh, nyata,
sembunyi terhadap apa yang tidak terhitung dan seluruh otot-ototnya dibagi
dengan bagian yang bagus lagi terukur dengan ukurannya. Panjangnya mencapai 8
ukuran dan ketika membentangkan tangannya ke atas mencapai 10 ukuran dan ketika
kedua tangannya dibentangkan ke kedua sisi, panjangnya seperti panjang sisi
keduanya. Pada penafsiran ini mengutamakan pesona penciptaannya pada bentuk
yang bermacam-macam dan di dalamnya muncul keindahan dalam bentuk ukurannya.
Ukuran adalah dasar yang Allah letakkan pada ukuran badan manusia. Untuk itu
para pemuka Mesir mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan kejadian manusia dan
mereka menjadikan asal ukuran dengan asysyibr (jengkal).(Jauhari) Sayyid Qutub dalam Tafsīr fī Ẓilāl al-Qur’ān, ia
mengatakan bahwa manusia telah tumbuh dari saripati dari tanah. Sedangkan
perkembangbiakannya setelah itu, telah diciptakan oleh sunnatullah bahwa ia
terjadi dengan cara air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki kemudian
menetap dalam rahim seorang wanita. Satu tetes air mani, bahkan satu benih dari
berpuluh ribu benih yang ada dalam satu tetes itu. Ia menetap dalam tempat yang
kokoh (rahim).
Redaksi al-Qur‟an menjadikan tetes air mani sebagai periode di antara
periode-periode pertumbuhan manusia. Air mani itu ada setelah manusia ada. Ia
merupakan hakikat yang tidak bisa dipungkiri. Namun, ia merupakan hakikat yang
sangat menakjubkan, yang perlu direnungkan. Maka, manusia yang sangat besar itu
dengan segala unsur dan karakternya, sebetulnya tersari dalam satu tetes mani
tersebut. Sebagaimana ia pun diulang dalam bentuk baru dalam janin dan wujudnya
terus-menerus ada dalam bentuk yang ringkas dan menakjubkan itu. Dari fase
setetes mani menuju fase segumpal darah, ketika sel mani lakilaki bertemu
dengan sel telur wanita. Kemudian ia menggantung dalam rahim sebagai titik yang
kecil pada awalnya yang mengambil sari makanan dari darah ibunya. Dari fase
segumpal darah menuju fase segumpal daging. Ketika titik yang menggantung itu
berangsung-angsur besar, dan berubah menjadi sepotong darah yang keras dan
bercampur. Ciptaan itu terus tumbuh dalam fase yang tetap tersebut yang tidak
akan menyimpang dan berubah. Gerakannya yang terorganisasi dan tertib tidak
akan menjadi lamban.
F. Kandungan Makna
1. Qs. Al-Imran ayat 190-191
· Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan
siang merupakan tanda kekuasan Allah.
· Tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini hanya
diketahui oleh ulul albab.
· Ulul albab adalah orang yang berdzikir dan berpikir.
Ia selalu ingat kepada Allah dalam segala kondisi dan ia juga mempergunakan
akalnya untuk memikirkan penciptaan alam semesta.
· Tafakkur atau berpikir yang benar akan mengantarkan
pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia.
· Tafakkur atau berpikir yang benar juga melahirkan
kedekatan kepada Allah dan memperbanyak doa kepada-Nya.
2. Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14
·
Manusia diciptkan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam
beberapa fase penciptaan dan kejadiannya.
·
Allah adalah sebaik-baik pencipta karena seluruh penciptaan tersebut
membuktikan bahwa Allah secara detail mempersiapkan segala hal yang
memungkinkan adalanya kehidupan suatu mahkluk ciptaan-Nya, termasuk manusia.
·
Proses kejadian manusia terbukti melalui Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan
sehinggal hal tesebut harus memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
G. Pesan-pesan Pendidikan
1. Qs. Al-Imran ayat 190-191
· Hanya orang-orang yang mau terbuka hatinya dan
mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui tanda-tanda
kekuasaan Allah SWT.
· Salah satu ciri orang yang beriman ialah yang
mempergunakan akal pikirannya untuk senantiasa karena mengingat Allah SWT dalam
keadaan apapun.
· Segala ciptaan Allah SWT tidak akan ada yang namanya
sia-sia
· Dalam penciptaan langit dan bumi ada tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi seorang hamba yang mau mencermatinya dengan cara
mentafakkuri atau memikirkan ayat-ayat yang karuniyah-Nya.
2. Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14
Allah SWT adalah yang menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal
dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian
segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya
menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam
suatu tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim. Setelah manusia melalui masa
ciptaannya, yang pasti akan mati dan akan dibangkitkan dari kuburnya pada hari
kiamat untuk dihisab tentang segala amal perbuatan. Maka proses kejadian
manusia dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14, membuktikan bahwa apa yang dijelaskan
dalam ayat tersebut sejalan atau sesuai dengan analisis ilmu pengetahuan. Agar
dapat timbulnya kesadara pada manusia bahwa dirinya adalah makhluk diciptakan
oleh Allah SWT yang banyak memiliki potensi.
Kesimpulan :
Pendidikan biologi merupakan suatu
ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan objek kajiannya yaitu manusia,
hewan dan tumbuh-tumbuhan. Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan
biologi yaitu: Qs. Al-Imran ayat 190-19 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Untuk
analisis data ia harus menggunakan analisis dari aspek bahasa dan sastra
(Mufradat) yaitu dalam Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat
12-14. Dan mempunyai Azbabun Nuzul Qur’an. Sehingga mempunyai beberapa hadits
atau ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi, yaitu: H.Shahih Bukhari
nomor 2152, H.Sunan Abu Daud nomor 2477,
H. Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari
Sa’id secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Qs. As-Sajdah
ayat 27, Qs. Faathir ayat 12. Adapun pendidikan biologi mempunyai beberapa
pandangan menurut para Ulama/Ahli, dalam
Qs.Al-Imran ayat 190-191 yaitu : Syaikh Imam Al-Qurthubi, Ahmad Mustafa
Al-Maragi, Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, M. Quraish Shihab,
dan Prof. Dr. Hamka. dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 Ṭanṭawi Jauhāri dalam kitabnya al-Jawāhir
fī Tafsīr al-Qurān
al-Karīm mengatakan
bahwa manusia (Adam) diciptakan dari saripati yang keruh.
Kandungan makna dalam
Qs. AL-Imran ayat 190-191 yaitu Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda
kekuasan Allah. Sedangkan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah Manusia
diciptakan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa
fase penciptaan dan kejadiannya. Akan tetapi, pesan-pesan pendidikan biologi
dalam Qs. Al-imran ayat 190-191 yaitu hanya orang-orang yang mau terbuka
hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui
tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah yang
menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian
dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi
pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang
sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan
yang kokoh yaitu rahim.
Daftar Pustaka
Abdul, Haji Malik Abdul Karim (HAMKA). Tafsir Al-Azhar.
pp. 196–97.
Agama, Departemen RI. AL-Qur’an Dan Tafsir. Jakarta : Lentera
Abadi.
---. Al-Qur’an Dan Tafsirnya. Ja, 2010.
As-Suyuthi, Jalaluddin. “Asbabun Nuzul : Sebab-Sebab Turunnya Ayat
Al-Qur’an.” Jakarta: Gema Insani, 2008, pp. 148–49.
Baidan, Nashruddin. “Wawasan Baru Ilmu Tafsir.” Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
vol. Cet.II, 2011, pp. 132–33.
Ibid. p. 183.
Imam, Al Ibn Katir. “Tafsir Al-Qur’an an Al-Azim.” Jilid 2, p. 96.
Imam, Syaikh al-Qurthubi. “Tafsir AL-Qurthubi.” Jakarta: Pustaka Azzam,
2009, p. 768.
Jauhari, Tantawi. “Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim.” Bairut:
Dar Al-Fikr, p. 97.
Muhammad Hasbi, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy. “Tafsir Al-Qur’an Anul Masjid
An-Nur.” Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000, p. 760.
Mustafa, Ajmad Al-Marghi. “Tafsir Al-Maragi, Juz IV, Terj. Tafsir
Al-Marghi.” Bahrun Abu Bakar Dkk, pp. 290–92.
Quraish, M. Shihab. “Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian
Al-Qur’an.” Jilid 2, p. 370.