Minggu, 10 Mei 2020

PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM AL-QUR'AN

PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM AL-QUR’AN

Uswatun Hasan

Email: uswatunhasan70@gmail.com

Abstrak

Artikel ini berjudul tentang Pendidikan Biologi dalam Al-Qur’an, sehingga merupakan jenis artikel yang membahas tentang pendidikan biologi dalam pandangan Islam, yang paling penting untuk kita ketahui terutama kaum Muslim. Pendidikan biologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan objek kajiannya yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi yaitu: Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Untuk analisis data ia harus menggunakan analisis dari aspek bahasa dan sastra (Mufradat) yaitu dalam Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Dan mempunyai Azbabun Nuzul Qur’an. Sehingga mempunyai beberapa hadits atau ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi, yaitu: H.Shahih Bukhari nomor 2152, H.Sunan Abu Daud  nomor 2477, H. Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari Sa’id secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Qs. As-Sajdah ayat 27, Qs. Faathir ayat 12. Adapun pendidikan biologi mempunyai beberapa pandangan menurut para Ulama/Ahli,  dalam Qs.Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Kandungan makna dalam Qs. AL-Imran ayat 190-191 yaitu Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasan Allah. Sedangkan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah Manusia diciptakan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa fase penciptaan dan kejadiannya. Akan tetapi, pesan-pesan pendidikan biologi dalam Qs. Al-imran ayat 190-191 yaitu hanya orang-orang yang mau terbuka hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah yang menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim.

 

Kata Kunci : Pendidikan, Biologi, Al-Qur’an

 

Pendahuluan

            Al-qur’an adalah kitab Suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Yang berlaku sampai akhir zaman nanti. Disadari atau tidak, Al-Qur’an memiliki berbagai fungsi yang sangat memberikan petunjuk kepada manusia, jika manusia sendiri mau mengimani Al-Qur’an itu sendiri, dan jika dipahami akan membuat kita selamat dunia dan akhirat. Al-Qur’an memuat banyak sekali nilai-nilai/aspek pendidikan yang penting sekali untuk kita ketahui. Diantara banyak aspek pendidikan yang tercantum atau dibahas dalam Al-Qur’an, yang terdapat satu aspek pendidikan yang akan dibahas yakni aspek pendidik biologi. Masalah pendidikan sangatlah kompleks karena di semua aspeknya terdapat persoalan yang perlu diselesaikan. Dekandensi moral telah merajalela dalam dunia pendidikan sehingga menjadi potret buram dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari maraknya perkelahian antar pelajar, banyaknya kasus narkoba yang menjeret siswa dan banyak lagi hal lainnya yang bersifat negatif.

Pendidikan biologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan objek kajiannya yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi yaitu: Qs. Al-Imran ayat 190-19 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Untuk analisis data ia harus menggunakan analisis dari aspek bahasa dan sastra (Mufradat) yaitu dalam Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Dan mempunyai Azbabun Nuzul Qur’an. Sehingga mempunyai beberapa hadits atau ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi, yaitu: H.Shahih Bukhari nomor 2152, H.Sunan Abu Daud  nomor 2477, H. Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari Sa’id secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Qs. As-Sajdah ayat 27, Qs. Faathir ayat 12. Adapun pendidikan biologi mempunyai beberapa pandangan menurut para Ulama/Ahli,  dalam Qs.Al-Imran ayat 190-191 yaitu : Syaikh Imam Al-Qurthubi, Ahmad Mustafa Al-Maragi, Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, M. Quraish Shihab, dan Prof. Dr. Hamka. dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 yaitu : Ṭanṭawi Jauhāri dalam kitabnya al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qurān al-Karīm mengatakan bahwa manusia (Adam) diciptakan dari saripati yang keruh. Kemudian dijelaskan bahwa manusia makan buah-buahan , biji-bijian dan daging dan dari itulah yang menjadi darah dan diantaranya menjadi air mani yang kemudian melahirkan keturunan manusia. Allah kemudian menjadikan keturunan Adam dari nufah yakni air mani yang disimpan pada tempat yang kokoh yakni kandungan pada rahim dan dari situlah tempat menetapnya air mani sampai waktu kelahiran pada derajat panas yang stabil sehingga mampu bertahan dan menetap.Allah kemudian membentuk air mani itu sepotong darah yang beku dan dijadikan darah beku itu menjadi sepotong daging kecil seukuran apa yang bisa dikunyah. Sepotong daging itu Allah jadikan tulang-belulang dengan keistimewaan diantaranya, adanya unsur-unsur yang masuk pada materi tulang yang dijadikan tulang-belulang dan adanya unsur daging yang dijadikan daging dan unsur kelahiran yang sempurna seluruhnya dimana bahannya berasal dari darah.

Kandungan makna dalam Qs. AL-Imran ayat 190-191 yaitu Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasan Allah. Sedangkan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah Manusia diciptakan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa fase penciptaan dan kejadiannya. Akan tetapi, pesan-pesan pendidikan biologi dalam Qs. Al-imran ayat 190-191 yaitu hanya orang-orang yang mau terbuka hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah yang menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim.

Maka dari itu, tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui betapa pentingnya belajar pendidikan biologi yang terdapat dalam AL-Qur’an, karena tujuan Islam yaitu membentuk manusia yang mempunyai pendidikan biologi yang paripurna sesuai dengan tuntunan Islam (Al-Qur’an) dan selalu mendekatkan diri Kepada Allah SWT. Adapun manfaat penulisan artikel ini yaitu, kita semua mampu untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an sebaga petunjuk dan pedoman hidup manusia agar ajarannya dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang pendidikan biologi. Serta sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan pada diri penulis maupun bagi orang lain.

 

 

 

           

 

 

 

 

Pembahasan

 

A.  Ayat-ayat yang Berkaitan

1.    Qs. Al-Imran ayat 190-191

žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ   tûïÏ%©!$# tbrãä.õtƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbr㍤6xÿtGtƒur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $uZ­/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ  

Terjemahan : 190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Agama, Al-Qur’an Dan Tafsirnya)

2.    Qs. Al-Mu’minun ayat 14

¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ  

Terjemahan : Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

B.  Analisis Mufradat (Bahasa dan Sastra)

1.    Qs. Al-Imran ayat 190-191

Mufrodat/Kosa Kata

Arti/Makna

Mufradat/Kosa Kata

Arti/Makna

,ù=yz

Penciptaan (menunjukkan tatanan yang mantap)

Îû cÎ)

Sesungguhnya dalam

ÈÚöF{$#ur

Bumi (Tempat kamu hidup)

Nºuq»yJ¡¡9$#

Langit (alam yang ada di atasmu)

M»tƒUy

Sungguh merupakan tanda-tanda

Í$pk¨]9$#ur È@øŠ©9$# #»n=ÏF÷z$#ur

Dan silih bergantinya siang dan malam

!$# brãä.õtƒ ûïÏ%©!$#

Orang-orang yang mengingat Allah

É=»t6ø9F{$#Í<'rT[{

Bagi orang-orang yang berakal

4 öNÎgÎ/qãZã_n?tãur

Dan berbaring

#YŠqãèè%ur $VJ»uŠÏ%

Berdiri dan duduk

È Ï ÇÚöF{$#ur N ºuq»uK¡¡9$# ,ù=yz Îû

Tentang penciptaan langit dan bumi

br㍤6xÿtGtƒur

Dan mereka memikirkan

#x»yd Mø)n=yz$tB

Tidaklah Engkau ciptakan ini

$uZ­/u

Wahai Tuhan kami

7oY»ysö6ß

Maha Suci Engkau dari hal-hal yang tidak layak bagi-Mu

xÏÜ»t/

Sia-sia yang tidak ada faedahnya

 

 

Í$¨Z9$# >#xtã $oYÉ)sù

Jadikanlah amal saleh itu sebagai tameng kami dari azab neraka

 

Istilah ulūl-albāb terdiri dari dua kata, yaitu ulūdan al-albāb.Yang pertama merupakan bentuk jamak yang bermakna żawu (mereka yang mempunyai).Sedang kata kedua “al-albāb” adalah bentuk jamak dari lubb yaitu saripati sesuatu.Kacang, misalnya memiliki kulit yang menutupi isinya.Isi kacang dinamai lubb.Ulūl-albāb adalah orang-orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. (Quraish)Orang yang mau menggunakan akal pikirannya untuk merenungkan atau menganalisa fenomena alam akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keEsaan dan kekuasaan Tuhan. (Agama, AL-Qur’an Dan Tafsir)

2.    Qs. Al-Mu;minun ayat 12-14

Mufradat/Kosa Kata

Arti/Makna

Mufradat/Kosa Kata

Arti/Makna

s)s9ur

Dan sesungguhnya

spxÿôÜZ9$#$uZø)n=yz

Air mani itu

$oYø)n=yz

Kami telah menciptakan

ps)n=tæ

Segumpal darah

`»|¡SM}$#

manusia

sps)n=yèø9$#$uZø)n=ysù

Kami jadikan segumpal darah itu

7's#»n=ß `ÏB

Dari saripati

ptóôÒãB

Menjadi segumpal daging

&ûüÏÛ `ÏiB

Dari tanah

ptóôÒßJø9$#$uZø)n=ysù

Kami jadikan tulang-belulang

§NèO

Kemudian

z $VJøtm:O»sàÏèø9$#$tRöq|¡s3sù

Kami bungkus dengan daging

m»oYù=yèy_

Kami jadikan

¢ çm»tRù't±Sr&OèO

Kemudian kami jadikan

pxÿôÜçR

Air mani

tyz#uä$¸)ù=yz

Makhluk (yang bentuk) lain

Îû 9#ts%

Dalam tempat yang kukuh

x ª!$#8u$t7tFsù

Mahasuci Allah

OèO

Kemudian

ªtûüÉ)Î=»sƒø:$#ß`|¡ômr&

Pencipta yang paling baik

 

C.  Asbabun- Nuzul Al-Qur’an

1.   Qs. Al-Imran ayat 190-191(A. I. K. Imam)

قل اطبر اني : حدثنا الحسين بن إسحاق التستري, حدثنا يحي الحماني, حدسنا يعقوب عن جعفر بن أبي المغيرة, عن سعيد بن جبير, عن ابن عباس, قال: أنت قريش اليهود, فقالوا : بم جاءكم؟ قالوا: عصاه ويده بيضاء الناظرين, وأتوا النصارى فقالوا : كيف كان عيسى؟ قالوا : كان يبر ئ الأكمه و الأبرص, ويهي الموتى, فأتو النبي صلى الله عليه و سلم فقالوا : ادع الله أن يجعل لنا الصفاذهباَ, فذعاربه, فنزلت هذه الاية (إن في خلق السماوات والارض واختلاف اليل و النهار لايات الأولى الألباب) فليتفكروافيه

Terjemahan : Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya kepada mereka, apa tanda-tanda yang dibawa Musa kepada kalian?” orang-orang Yahudi itu menjawab “Tongkat dan tangan yang putih bagi orang-orang yang melihatnya.” Lalu orang-orang Quraisy itu mendatangi orang-orang Nasrani, lalu bertanya kepada mereka, “apa tanda-tanda yang diperlihatkan Isa?.” Mereka menjawab, “Dia dulu menyembuhkan orang yang buta, orang yang sakit kusta dan menghidupkan orang mati.” Lalu mereka mendatangi Nabi SAW. lalu berkata kepada beliau, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit shafa menjadi emas untuk kami.” Lalu beliau berdoa, maka turunlah firman Allah (Q.S Ali Imran 190) ini. (As-Suyuthi)

2.    Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14

Asbab al-nuzul al-Qur‟an adalah sesuatu yang turun satu ayat atau beberapa ayat berbicara tentangnya (sesuatu itu) atau menjelaskan ketentuanketentuan hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Zarqānī.(Baidan)Istilah “sebab” di sini, tidak sama pengertiannya dengan istilah “sebab” yang dikenal dalam hukum kausalitas. Istilah “sebab” dalam hukum kausalitas, merupakan keharusan wujudnya untuk lahirnya suatu akibat. Suatu akibat tidak akan terjadi tanpa ada sebab terlebih dahulu. Bagi al-Qur‟an, walaupun di antara ayatnya yang turun didahului oleh sebab tertentu, tetapi sebab di sini, secara teoritis tidak mutlak adanya, walaupun secara empiris telah terjadi peristiwanya. Adanya sebab nuzul al-Qur‟an, merupakan salah satu manifestasi kebijaksanaan Allah dalam membimbing hamba-Nya.

Dengan adanya asbab al-nuzul, akan lebih tampak keabsahan al-Qur‟an sebagai petunjuk yang sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan manusia. (Ibid)Adapun asbab al-nuzul Q.S. al-Mu‟minūn/ 23: 12-14, diberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Hafiẓ, berkata: diberitakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Hayyan, berkata: diberitakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman, berkata: diceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Suwaid bin Manjuf, berkata: diceritakan kepada kami Abu Daud, dari Hammad bin Salmah, dari, Ali bin Zaid bin Jud‟an, dari Anas bin Malik, berkata: Umar bin Khathab r.a. berkata: pandanganku yang sejalan dengan kehendak Allah.

D.  Hadits yang Berikatan dengan Pendidikan dalam Al-Qur’an

1.    H.Shahih Bukhari nomor 2152

حَدَّ ثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّ ثَنَا أَبُوعَوَانَةَح وحَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّ حْمَنِ بْنُ الْمُبَرَكِ حَدَّثَنَا أَبُوْعَوَانَةَعَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَعَنْ أَنْسِ بْنِ مَلِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْيَزْرَعُ زَرْعًافَيَاْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْإِنْسَانٌ أَوْبَهِمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ وَقَالَ لَنَا مُسْاِمٌ حَدَّسَناَ أَبَانُ حَدَّسَنَا قَتَادَةُ حَدَّسَنَاأَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 

   Terjemahan : “Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu’Awanah. Dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya ‘Abdurahman bin Almubarak telah menceritakan kepada kami ‘Abu Awanah dari Qutabah dari Anas bin Malik Ra. Berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau manusia atau hewan melainkan itu menjadi sadaqah baginya”. Dan berkata, kepada kami Muslim telah menceritakan kepada saya Aban telan menceritakan kepada kami Qatadah telah menceritakan kepada kami. Anas dari Nabi SAW. (Shahih Bukhari : 2152).

2.    H.Sunan Abu Daud  nomor 2477

حَدَّثَنَايَحْيَ بْنُ مَعِيْنٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُبْنُ خَالِدٍ الْخَيَّاطُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِبْنِ نُفَيْرٍعَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ إِذَا رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَأَدْرَكْتَهُ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ وَسَهْمُكَ فِيْهِ فَكُلْهُ مَالَمْ يُنْتِنْ

Terjemahan : “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin ma’in, telah menceritaka kepada kami Hammad bin Khalid Al Khayyath, dari Mu’awiyah bin Shalih dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Tsa’labah Al Khusyani, dari Nabi shalallahu’alaihi wasallam, beliau berasbda: “apabila engkau memanah hewan buruan kemudian engkau mendapatinya setelah tiga malam dan anak panahmu ada adanya, maka makanlah” selama belum membusuk! (Sunan abu daud : 2477)

3.    Didalam hadits Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari Sa’id secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Allah berfirman :

* uqèdur üÏ%©!$# r't±Sr& ;M»¨Yy_ ;M»x©rá÷è¨B uŽöxîur ;M»x©râ÷êtB Ÿ@÷¨Z9$#ur tíö¨9$#ur $¸ÿÎ=tFøƒèC ¼ã&é#à2é& šcqçG÷ƒ¨9$#ur šc$¨B9$#ur $\kÈ:»t±tFãB uŽöxîur 7mÎ7»t±tFãB 4 (#qè=à2 `ÏB ÿ¾Ín̍yJrO !#sŒÎ) tyJøOr& (#qè?#uäur ¼çm¤)ym uQöqtƒ ¾ÍnÏŠ$|Áym ( Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä šúüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÊÍÊÈ  

 

Terjemahan : “dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

 

     Disebutkan, “Buah yang terjatuh dari bulirnya.” Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.

4.    Qs. As-Sajdah ayat 27

öNs9urr& (#÷rttƒ $¯Rr& ä-qÝ¡nS uä!$yJø9$# n<Î) ÇÚöF{$# Îãàfø9$# ßl̍÷ãYsù ¾ÏmÎ/ %Yæöy ã@à2ù's? çm÷ZÏB öNßgßJ»yè÷Rr& öNåkߦàÿRr&ur ( Ÿxsùr& tbrçŽÅÇö7ムÇËÐÈ  

Terjemahan :”dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya Makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan?

5.    Qs. Faathir ayat 12

$tBur ÈqtGó¡o Èb#tóst7ø9$# #x»yd Ò>õtã ÔN#tèù Ô÷ͬ!$y ¼çmç/#uŽŸ° #x»ydur ìxù=ÏB Ól%y`é& ( `ÏBur 9e@ä. tbqè=à2ù's? $VJóss9 $wƒÌsÛ tbqã_̍÷tFó¡n@ur ZpuŠù=Ïm $ygtRqÝ¡t6ù=s? ( ts?ur y7ù=àÿø9$# ÏmŠÏù tÅz#uqtB (#qäótGö;tGÏ9 `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù öNä3¯=yès9ur šcrãà6ô±n@ ÇÊËÈ  

Terjemahan : “dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu Lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.

E.  Pandangan Ulama/Ahli

1.    Pandangan Para Mufassir Terhadap Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 190-191

Dari uraian penjelasan mengenai kedua ayat diatas dapat dipahami bahwa terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan langit dan bumi seisinya bagi orang yang berakal yang mau mengingat dan memikirkannya dalam keadaan duduk, berdiri, berbaring dan sebagainya. Berikut ini tafsiran para ulama mengenai ayat tersebut melalui ijtihadnya:

·      Surat Ali Ilmran Ayat 190

a.    Syaikh Imam al-Qurthubi

Allah SWT memerintahkan kita untuk melihat, merenung, dan mengambil kesimpulan pada tanda-tanda ke-Tuhanan. Karena tanda-tanda tersebut tidak mungkin ada kecuali diciptakan oleh Yang Maha Hidup, Yang Maha Suci, Maha Menyelamatkan, Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun yang ada di alam semesta. Dengan menyakini hal tersebut maka keimanan mereka bersandarkan atas keyakinan yang benar dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Pada lafadz ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$#  Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Inilah salah satu fungsi akal yang diberikan kepada seluruh manusia, yaitu agar mereka dapat menggunakan akal tersebut untuk merenungi tanda-tanda yang telah diberikan oleh Allah SWT. (S. al-Q. Imam)

Al-Hasan menambahkan: tafakkur adalah cermin seorang mukmin, ia dapat melihat segala kebaikan dan keburukan melaluinya. Dan beberapa hal yang harus direnungi pada saat tafakkur adalah ancaman-ancaman dan janji-jani yang dipersiakan untuk di akhirat annti, yaitu hari kiamat, hari kebangkitan, surge dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, juga neraka dan segala siksa yang terdapat di dalamnya.

b.   Ahmad Mustafa Al-Maragi

Sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya pada dunia flora dan fauna, dan sebagainya merupakan tanda dan bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya.

c.    Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy

Sesungguhnya dalam peraturan langit dan bumi serta keindahannya, di dalam pergantian malam dan siang, serta terus menerus beriring-iringan melalui aturan yang paling baik (harmonis), yang nyata pengaruhnya pada tubuh dan akal kita, seperti panas dan dingin, demikian pula pada binatang dan tumbuh-tumbuhan, semua itu merupakan dalil (bukti) yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan ilmu dan kodrat-Nya, bagi semua orang yang berakal kuat. (Muhammad Hasbi)

d.   M. Quraish Shihab

Ayat ini mengundang manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan, yakni benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, dan jutaan gugusan bintang yang terdapat di langit atau dalam pengaturan sistem kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada porosnya, yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang perbedaannya, baik dalam masa maupun dalam panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda kemahakuasaan Allah bagiulūl-albāb, yakni orang-orang yang memiliki akal yang murni. (Quraish)

e.    Prof. Dr. HAMKA

Langit dan bumi dijadikan oleh Sang Khaliq, sangat indah dengan tersusun tertib dan sesuai aturan. Silih berganti malam dengan siang, betapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan segala yang bernyawa.Terkadang malamnya pendek, siangnya panjang atau sebaliknya.Terdapat musim panas, musim dingin, musim hujan, musim gugur, musim semi, bahkan musim salju selamanya seperti yang terjadi di kutub.Semua ini menjadi ayat, tanda bagi orang yang berpikir, bahwa tidaklah semuanya ini terjadi dengan sendirinya.Sempurnanya ciptaan-Nya tandanya menjadikan indah.Mulia belaka, tanda yang melindunginya mulia adanya.

Orang yang melihatnya dan mempergunakan pikiran meninjaunya, masing-masing sesuai bakat pikirannya.Entah seorang ahli ilmu alam, ahli ilmu binatang, ahli ilmu tumbuh-tumbuhan, ahli pertambangan, ahli filosof, ataupun seorang penyair dan seniman sekalipun. Semuanya akan dipesona oleh keteraturan alam semesta yang luar biasa. Terasa kecil dihadapan keajaiban alam, terasa kecil alam dihadapan kebesaran penciptanya. Pada akhirnya tiada arti diri, tiada arti alam, yang ada hanyalah DIA, yaitu yag sebenarnya DIA. Karena kita manusia (al-hayawan an-nathiq) kita berpikir. Layaknya ulūl-albāb memiliki intisari, mempunyai pikiran. Mempunyai biji akal (potensi) yang bila ditanam dengan baik akan tumbuh. (Abdul)

·      Surat Ali Imran Ayat 191

a.    Syaikh Imam al-Qurthubi

Pada ayat ini Allah menyebutkan tiga keadaan yang sering dilakukan oleh manusia pada tiap-tiap waktunya.Dikatakan Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. Dzikir dalam arti umum dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, walaupun ketika berada di kamar mandi atau tempat-tempat kurang baik, karena pahalanya akan tetap ditulis oleh malaikat tanpa melihat lokasi tempat berdzikir. Pendapat ini dihukumi oleh para ulama dengan makruh beralasan, karena berdzikir kapada Allah pada tempat-tempat seperti itu mengurangi kesantunan terhadap Allah, misalnya dengan membaca Al-Qur‟an di kamar mandi, bukankah akhlak kita mencegah perbuatan seperti itu.

Para ulama berpendapat dzikir dalam konteks ini diartikan dengan shalat bahwa kewajiban shalat dilakukan dengan berdiri, namun apabila tidak sanggup dengan duduk, dan berbaring jika tidak kuasa untuk duduk. (S. al-Q. Imam)

b.   Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy

Orang yang berakal (Ulūl-albāb) adalah orang yang memperhatikan penciptaan langit dan bumi beserta isi dan hokum-hukumnya, lalu mengingat penciptanya yakni Allah, dalam segala keadaaan.Kemenangan dan keberuntungan hanyalah dengan mengingat kebesaran Allah serta memikirkan segala makhluk-Nya yang menunjuk kepada adanya Sang Khaliq yang Esa.Yang memiliki ilmu dan kodrat, yang diiringi oleh iman dan taqwa. Dalam kegiatan tafakkur mereka juga mengingat Allah seraya lisannya berucap memuji keagungan dan kebesaran-Nya atas ciptaan yang mengandung hikmah dan kemashlahatan. Masing-masing orang akan memperoleh pembalasan atas amal perbuatannya kelak, baik itu amal shalih maupun buruk. (Muhammad Hasbi)

c.    Prof. Dr. HAMKA

Orang yang berpikiranartinya orang yang tidak pernah lepas dari mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring.Kata yadzkurūna berarti ingat berpokok pada kata dzikir.Disebutkan pula, bahwasanya dzikir hendaklah bertali diantara sebutan dan ingatan.Kita mampu menyebut Asma Allah dengan mulut karena telah teringat terlebih dahulu dalam hati.Sesudah pengelihatan atas kejadian langit dan bumi, atau pergantian siang dan malam, langsungkan ingatan kepada yang menciptakannya.Karena jelaslah dengan sebab ilmu pengetahuan bahwa semuanya itu tidaklah ada yang terjadi sia-sia atau secara kebetulan.Kegiatan mengingat (tadzakkur) itu berhubungan dengan kegiatan memikirkan (tafakkur). Lanjutan perasaan setelah mengingat dan berpikir, yaitu tawakkal dan ridla, berserah diri dan mengakui kelemahan.Seyogyanya bertambah tinggi ilmu seseorang bertambah ingatlah kepada Allah.Sebagai alamat pengakuan atas kelemahannya dihadapan Allah, timbullah bakti dan ibadat sebagai hamba kepada penciptanya. (Abdul)

d.   M. Quraish shihab

Ayat tersebut menjelaskan sebagian dari ciri-ciri siapa yang dinamai Ulūl-albāb. Mereka adalah orang baik laki-laki atau perempuan yang terus-menerus mengingat Allah, dengan ucapan dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi apapun.Obyek dzikir adalah Allah, sedangkan obyek akal pikiran adalah seluruh makhluk ciptaan-Nya.Akal diberi kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, dan terdapat keterbatasan dalam memikirkan dzat Allah. (Quraish)

e.    Ahmad Mustafa al-Maragi

Ulūl-albāb adalah orang-orang yang mau menggunakan pikirannya, mengambil faedah darinya, mengambil hidayah darinya, menggambarkan keagungan Allah dan mau mengingat hikmah akal dan keutamaannya, di samping keagungan karunia-Nya dalam segala sikap dan perbuatan mereka, sehingga mereka bisa berdiri, duduk, berjalan, berbaring dan sebagainya. Mereka tidak lalai untuk mengingat Allah dalam sebagian waktunya, merasa tenang dengan mengingat Allah dan tenggelam dalam kesibukan mengoreksi diri secara sadar bahwa Allah selalu mengawasi mereka.

Seorang mukmin yang mau menggunakan akal pikirannya, selalu menaruh pengharapan hanya kepada Allah melalui pujian, doa dan ibtihal, setelah melihat bukti-bukti keagungan Allah yang menunnjukkan keindahan hikmah. Mereka tahu bagaimana berbicara dengan Tuhan ketika telah mendapatkan hidayah terhadap sesuatu terkait dengan kebajikan dan kedermawanan-Nya dalam menghadapi ragam makhluk-Nya. (Mustafa)

2.    Pendapat Mufassir Tentang Proses Penciptaan Manusia dalam Q.S. Al-Mu’minun/ 23: 12-14.

Ṭanṭawi Jauhāri dalam kitabnya al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qurān al-Karīm mengatakan bahwa manusia (Adam) diciptakan dari saripati yang keruh. Kemudian dijelaskan bahwa manusia makan buah-buahan , biji-bijian dan daging dan dari itulah yang menjadi darah dan diantaranya menjadi air mani yang kemudian melahirkan keturunan manusia. Allah kemudian menjadikan keturunan Adam dari nufah yakni air mani yang disimpan pada tempat yang kokoh yakni kandungan pada rahim dan dari situlah tempat menetapnya air mani sampai waktu kelahiran pada derajat panas yang stabil sehingga mampu bertahan dan menetap.Allah kemudian membentuk air mani itu sepotong darah yang beku dan dijadikan darah beku itu menjadi sepotong daging kecil seukuran apa yang bisa dikunyah. Sepotong daging itu Allah jadikan tulang-belulang dengan keistimewaan diantaranya, adanya unsur-unsur yang masuk pada materi tulang yang dijadikan tulang-belulang dan adanya unsur daging yang dijadikan daging dan unsur kelahiran yang sempurna seluruhnya dimana bahannya berasal dari darah.

Allah kemudian menjadikannya makhluk (berbentuk) lain. Allah menghembuskan ruh dan menjadikannya hewan setelah diserupakan benda mati yang berfikir, tidak bisu, mendengar dan melihat. Allah menjadikannya sesuatu yang aneh, nyata, sembunyi terhadap apa yang tidak terhitung dan seluruh otot-ototnya dibagi dengan bagian yang bagus lagi terukur dengan ukurannya. Panjangnya mencapai 8 ukuran dan ketika membentangkan tangannya ke atas mencapai 10 ukuran dan ketika kedua tangannya dibentangkan ke kedua sisi, panjangnya seperti panjang sisi keduanya. Pada penafsiran ini mengutamakan pesona penciptaannya pada bentuk yang bermacam-macam dan di dalamnya muncul keindahan dalam bentuk ukurannya. Ukuran adalah dasar yang Allah letakkan pada ukuran badan manusia. Untuk itu para pemuka Mesir mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan kejadian manusia dan mereka menjadikan asal ukuran dengan asysyibr (jengkal).(Jauhari) Sayyid Qutub dalam Tafsīr fī Ẓilāl al-Qur’ān, ia mengatakan bahwa manusia telah tumbuh dari saripati dari tanah. Sedangkan perkembangbiakannya setelah itu, telah diciptakan oleh sunnatullah bahwa ia terjadi dengan cara air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki kemudian menetap dalam rahim seorang wanita. Satu tetes air mani, bahkan satu benih dari berpuluh ribu benih yang ada dalam satu tetes itu. Ia menetap dalam tempat yang kokoh (rahim).

Redaksi al-Qur‟an menjadikan tetes air mani sebagai periode di antara periode-periode pertumbuhan manusia. Air mani itu ada setelah manusia ada. Ia merupakan hakikat yang tidak bisa dipungkiri. Namun, ia merupakan hakikat yang sangat menakjubkan, yang perlu direnungkan. Maka, manusia yang sangat besar itu dengan segala unsur dan karakternya, sebetulnya tersari dalam satu tetes mani tersebut. Sebagaimana ia pun diulang dalam bentuk baru dalam janin dan wujudnya terus-menerus ada dalam bentuk yang ringkas dan menakjubkan itu. Dari fase setetes mani menuju fase segumpal darah, ketika sel mani lakilaki bertemu dengan sel telur wanita. Kemudian ia menggantung dalam rahim sebagai titik yang kecil pada awalnya yang mengambil sari makanan dari darah ibunya. Dari fase segumpal darah menuju fase segumpal daging. Ketika titik yang menggantung itu berangsung-angsur besar, dan berubah menjadi sepotong darah yang keras dan bercampur. Ciptaan itu terus tumbuh dalam fase yang tetap tersebut yang tidak akan menyimpang dan berubah. Gerakannya yang terorganisasi dan tertib tidak akan menjadi lamban.

F.   Kandungan Makna

1.    Qs. Al-Imran ayat 190-191

· Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasan Allah.

· Tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini hanya diketahui oleh ulul albab.

· Ulul albab adalah orang yang berdzikir dan berpikir. Ia selalu ingat kepada Allah dalam segala kondisi dan ia juga mempergunakan akalnya untuk memikirkan penciptaan alam semesta.

· Tafakkur atau berpikir yang benar akan mengantarkan pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia.

· Tafakkur atau berpikir yang benar juga melahirkan kedekatan kepada Allah dan memperbanyak doa kepada-Nya.

2.    Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14

· Manusia diciptkan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa fase penciptaan dan kejadiannya.

· Allah adalah sebaik-baik pencipta karena seluruh penciptaan tersebut membuktikan bahwa Allah secara detail mempersiapkan segala hal yang memungkinkan adalanya kehidupan suatu mahkluk ciptaan-Nya, termasuk manusia.

· Proses kejadian manusia terbukti melalui Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan sehinggal hal tesebut harus memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

 

 

G. Pesan-pesan Pendidikan

1.    Qs. Al-Imran ayat 190-191

· Hanya orang-orang yang mau terbuka hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

· Salah satu ciri orang yang beriman ialah yang mempergunakan akal pikirannya untuk senantiasa karena mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun.

· Segala ciptaan Allah SWT tidak akan ada yang namanya sia-sia

· Dalam penciptaan langit dan bumi ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi seorang hamba yang mau mencermatinya dengan cara mentafakkuri atau memikirkan ayat-ayat yang karuniyah-Nya.

2.    Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14

Allah SWT adalah yang menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim. Setelah manusia melalui masa ciptaannya, yang pasti akan mati dan akan dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat untuk dihisab tentang segala amal perbuatan. Maka proses kejadian manusia dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14, membuktikan bahwa apa yang dijelaskan dalam ayat tersebut sejalan atau sesuai dengan analisis ilmu pengetahuan. Agar dapat timbulnya kesadara pada manusia bahwa dirinya adalah makhluk diciptakan oleh Allah SWT yang banyak memiliki potensi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan :

            Pendidikan biologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dan objek kajiannya yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi yaitu: Qs. Al-Imran ayat 190-19 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Untuk analisis data ia harus menggunakan analisis dari aspek bahasa dan sastra (Mufradat) yaitu dalam Qs. Al-Imran ayat 190-191 dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14. Dan mempunyai Azbabun Nuzul Qur’an. Sehingga mempunyai beberapa hadits atau ayat yang berkaitan dengan pendidikan biologi, yaitu: H.Shahih Bukhari nomor 2152, H.Sunan Abu Daud  nomor 2477, H. Ibnu Luhai’ah, dari Darraj, dari Abul Haisam, dari Sa’id secara marfu’sehubungan dengan Qs. Al-An’am ayat 141, Qs. As-Sajdah ayat 27, Qs. Faathir ayat 12. Adapun pendidikan biologi mempunyai beberapa pandangan menurut para Ulama/Ahli,  dalam Qs.Al-Imran ayat 190-191 yaitu : Syaikh Imam Al-Qurthubi, Ahmad Mustafa Al-Maragi, Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, M. Quraish Shihab, dan Prof. Dr. Hamka. dan Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 Ṭanṭawi Jauhāri dalam kitabnya al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qurān al-Karīm mengatakan bahwa manusia (Adam) diciptakan dari saripati yang keruh.

Kandungan makna dalam Qs. AL-Imran ayat 190-191 yaitu Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasan Allah. Sedangkan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah Manusia diciptakan dari saripati tanah yang kemudian mengalami proses dalam beberapa fase penciptaan dan kejadiannya. Akan tetapi, pesan-pesan pendidikan biologi dalam Qs. Al-imran ayat 190-191 yaitu hanya orang-orang yang mau terbuka hatinya dan mempergunakan untuk pikirannya dan berpikirlah yang akan mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan dalam Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah yang menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditiupkan ruhnya menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu telah terjadi ketika dalam suatu tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abdul, Haji Malik Abdul Karim (HAMKA). Tafsir Al-Azhar. pp. 196–97.

Agama, Departemen RI. AL-Qur’an Dan Tafsir. Jakarta : Lentera Abadi.

---. Al-Qur’an Dan Tafsirnya. Ja, 2010.

As-Suyuthi, Jalaluddin. “Asbabun Nuzul : Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an.” Jakarta: Gema Insani, 2008, pp. 148–49.

Baidan, Nashruddin. “Wawasan Baru Ilmu Tafsir.” Yogyakarta: Pustaka Pelajar, vol. Cet.II, 2011, pp. 132–33.

Ibid. p. 183.

Imam, Al Ibn Katir. “Tafsir Al-Qur’an an Al-Azim.” Jilid 2, p. 96.

Imam, Syaikh al-Qurthubi. “Tafsir AL-Qurthubi.” Jakarta: Pustaka Azzam, 2009, p. 768.

Jauhari, Tantawi. “Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim.” Bairut: Dar Al-Fikr, p. 97.

Muhammad Hasbi, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy. “Tafsir Al-Qur’an Anul Masjid An-Nur.” Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000, p. 760.

Mustafa, Ajmad Al-Marghi. “Tafsir Al-Maragi, Juz IV, Terj. Tafsir Al-Marghi.” Bahrun Abu Bakar Dkk, pp. 290–92.

Quraish, M. Shihab. “Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an.” Jilid 2, p. 370.